Rabu, 10 Februari 2016

Madiun, 11 februari 2016




PROFIL DESA GLONGGONG

A.    Letak Geografis Desa Glonggong
Desa Glonggong adalah salah satu desa yang terletak di wilayah kecamatan Balerejo kabupaten Madiun provinsi Jawa Timur. Desa ini terletak tidak jauh dari kecamatan Balerejo, yakni berjarak 3 km dengan waktu tempuh ke kecamatan selama 10 menit. Sedangkan jarak ke pusat fasilitas umum seperti pasar, kesehatan dan pemerintahan sejauh 2 km, dan ketersediaan angkutan umum selama 24 jam/hari.   Lama jarak tempuh ke ibu kota  kabupaten Madiun dengan kendaraan bermotor kurang lebih 15 menit dan lama jarak tempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan non-motor sekitar ±1 jam.
Desa Glonggong dari segi batas wilayahnya di sebelah utara berbatasan dengan desa Sogo, di sebelah selatan berbatasan dengan desa Garon, di sebelah timur berbatasan dengan desa Balerejo, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Ngawi. Selain itu desa Glonggong merupakan daerah dataran rendah.
Sepanjang perjalanan menuju Desa Glonggong terdapat hamparan ladang pertanian padi yang terbentang luas. Desa ini memiliki iklim sebagaimana desa-desa lain yang ada di Indonesia, yakni kemarau dan penghujan, hal tersebut berpengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di desa Glonggong kec Balerejo. Kondisi jalan yang ada di Glonggong terdapat jalan tanah, keras, beton, aspal. Jalan tanah sepanjang 1000 M, sedangkan jalan keras sepanjang 5500 M, jalan beton sepanjang 1500 M, dan jalan aspal sepanjang 2000 M. Secara keseluruhan kondisi desa Glonggong sudah cukup maju baik dari segi bangunan rumah warga, sekolah, tempat ibadah, dan lain-lain.

Gambar  (Peta desa Glonggong) :
   
 
Sebagian aset besar wilayah Desa Glonggong merupakan lahan pertanian yang luasnya sekitar 187 ha. Sehingga mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh tani. Sebanyak 825 orang penduduk desa Glonggong merupakan pemilik sawah, dan 31 orang penduduk desa Glonggong menjadi penyewa/penggarap sawah, sedangkan 115 orang penduduk desa Glonggong bekerja sebagai buruh tani. Wilayah desa Glonggong terdiri dari tiga dusun yaitu: Dusun Glonggong, Mlaten, dan Plumpung.
Kondisi sarana dan prasarana umum desa Glonggong secara garis besar berdasarkan profil desa dari balai desa terdiri dari:
1.      Balai Desa    : 1 bh
2.      SD                : 1 bh
3.      PAUD          : 2 bh
4.      TK                : 1 bh
5.      Polindes       : 1 bh
6.      Jalan Desa    : 3 km
7.      Irigasi           : 5 km
8.      Masjid          : 3 bh
9.      Musholla      : 7 bh

B.     Sejarah
Desa Glonggong terbentuk dari tahun 1931. Desa Glonggong merupakan desa yang terbentuk dari gabungan tiga dusun yakni dusun Glonggong, Mlaten dan Plumpung. Desa ini dinamakan Glonggong karena wilayah terbesar berada di dusun Glonggong. [1]
Sebagaimana dijelaskan di atasm bahwasannya desa Glonggong merupakan gabungan dari dusun Glonggong, Mlaten, dan Plumpung. Setiap dusun di desa ini memiliki asal mula nama dusun. Seperti pada dusun Glonggong, nama Glonggong diambil dari cerita rakyat yang berkembang di masyarakat. Dusun Glonggong memiliki Glugu besar dalam jumlah yang banyak. Glugu besar tersebut hampir menyerupai  pohon tebu tetapi ukurannya lebih besar dan tidak memiliki rasa manis seperti tebu.[2] Lama-kelamaan disebutlah daerah ini dengan sebutan Glonggong.
Lain halnya dengan dusun Glonggong, nama dusun Mlaten didapat dari bunga Melati yang berada di dusun itu. Di dalam bunga Melati tersebut memiliki sesuatu di dalamnya yang hingga saat ini masyarakat tidak mengetahui isi di dalam Melati terebut, maka dusun ini dinamakan Mlaten.[3]
Tidak jauh beda dengan dusun Glonggong, nama dusun Plumpung juga diambil dari tanaman Glugu. Cerita rakyat yang berkembang menceritakan bahwa dahulu kala di dusun Plumpung terdapat kayu Glugu kecil di rawa. Saat itu, di duun Plumpung memang terdapat rawa-rawa yang ditumbuhi Glugu. Glugu di rawa dalam bahasa jawa disebut dengan Plumpung. Oleh karena itu, dusun ini disebut dengan dusun Plumpung.[4]
Dalam perkembangannya, desa Glonggong telah beberapa kali berganti kepala desa. Seiring berjalannya waktu, desa ini semakin maju baik dari segi infrastruktur, pendidikan, maupun kesejahteraan masyarakat. Tentu kemajuan yang berkembang tidak lepas dari peran kepala desa dengan program-program kerjanya dan dibantu oleh perangkat desa serta  masyarakat desa. Kepala desa Glonggong diantaranya adalah Bapak Hadi Wiyono, Wiryorejo, Sastro Sunaryo, Suyadi, Murdoko, dan Suwito.
Bapak Hadi Wiyono merupakan kepala desa pertama di desa Glonggong dari tahun 1931-1948. Bapak Wiryorejo merupakan kepala desa kedua dari tahun 1948-1951. Pada tahun 1951 digantikan oleh Bapak Sastro Sunaryo hingga tahun 1991. Kemudian pada tahun 1991 digantikan oleh Bapak Suyadi hingga tahun 1998. Dilanjutkan dengan kepemimpinan Bapak Murdoko hingga tahun 2008. Kepemimpinan Bapak Murdoko berlangung selama sepuluh tahun. Di tahun 2008 digantikan oleh Bapak Suwito hingga tahun 2014. Akhir kepemimpinan Bapak Suwito, beliau terpilih lagi sebagai kepala desa hingga 6 tahun kedepan. [5]


A.    Aset Desa Glonggong
Menurut Bapak Sumanto (Sekertaris desa Glonggong), aset yang dimiliki desa Glonggong diantaranya:[1]
a.       Aset Manusia: petani, pemilik sawah, penggarap/penyewa, buruh tani, pemilik ternak sapi, pemilik ternak kambing, pemilik ternak ayam, pemilik kolam ikan, pemilik usaha industri rumah tangga, PNS, warung, kios, pedagang kecil, becak, tukang kayu/batu, tukang jahit, dan buruh lepas.
b.      Aset Alam: pemukiman, sawah, dan ladang/tegalan.
c.       Aset Ekonomi: pertanian, peternakan, penjahit, usaha industri rumah tangga.
d.      Aset Sosial: kelompok tani, kelompok tahlil, kelompok PKK, kelompok pengajian, kelompok senam, arisan RT, posyandu, posbindu, TPQ, koperasi wanita, arisan sinoman bapak dan arisan sinoman ibu.
e.       Aset Fisik: masjid, musholla, rumah, makam, sekolah (PAUD/SD/TPQ dll), kantor desa.

B.     Demografi Desa Glonggong
1.      Jumlah Penduduk
Desa Glonggong terbagi menjadi tiga dusun yaitu Dusun Glonggong, Mlaten, dan Plumpung. Di desa ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 2326 jiwa. Jumlah penduduk laki-laki kurang lebih sebanyak 1026 jiwa, dan penduduk perempuan kurang lebih sebanyak 1053 jiwa. Jumlah kepala keluarga di desa ini sebnayak 747 KK. Dari keseluruhan jumlah penduduk tersebut, mayoritas terdiri dari usia 15-49 tahun dengan total 1022 jiwa, dan penduduk usia 50 tahun ke atas sebanyak 664 jiwa. Sedangkan penduduk usia 0-14 tahun sebanyak 393 jiwa.
Di Dusun Glonggong, menurut data yang didapat dari balai desa  jumlah penduduk dusun Glonggong adalah kurang lebih 357 Kepala Keluarga dan jumlah jiwa sebanyak 1139 jiwa.
Berbeda dengan Dusun Glonggong, jumlah penduduk dusun Mlaten berjumlah kurang lebih 121 Kepala Keluarga dan jumlah jiwa sebanyak 353 jiwa. Sedangkan di Dusun Plumpung, jumlah penduduknya berjumlah kurang lebih 269 Kepala Keluarga dan jumlah jiwa sebanyak 834 jiwa.

2.      Pekerjaan
Masyarakat Desa Glonggong mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Selain kedua pekerjaan tersebut, sebagian kecil masyarakat juga mempunyai pekerjaan lain, di antaranya adalah pemilik hewan ternak (sapi, kambing, ayam), pemilik kolam ikan, pemilik usaha rumahan, dan pekerja di bidang jasa.

a.    Petani & buruh tani
Mayoritas pekerjaan masyarakat di Desa Glonggong adalah petani dan buruh tani. Masyarakat Glonggong sebagian memiliki sawah sendiri, akan tetapi sebagian lainnya bekerja sebagai buruh tani.[2] .
Gambar:
                 

b.    Peternak hewan
Penduduk desa Glonggong menjadi peternak sebagai pekerjaan sampingan. Data tersebut terlihat dari sedikitnya orang yang bermata pencaharian peternak dari pada petani.
    Gambar:
                  

c.    Pemilik kolam ikan
Tak hanya sebagai petani dan buruh tani warga Glonggong juga mempunyai lahan yang dijadikan kolam ikan. Kolam ikan tersebut hanya dijadikan sebagai konsumsi pribadi.

d.   Pemilik usaha rumahan
Usaha rumahan yang banyak dilakukan oleh warga yakni menjadi pedagang. Pedagang adalah salah satu alternatif pekerjaan sampingan yang dilakukan oleh warga desa Glonggong. Beberapa warga memilih membuka warung, kios, atau berkeliling untuk menjajakan dagangannya. Mulai dari dagangan kebutuhan sehari-hari, makanan, dan minuman.
Selain itu, warga desa Glonggong juga mempunyai keahlian memproduksi abon dan kerupuk. Pembuatan abon dan krupuk biasanya diproduksi jika ada orderan dan ketika ada bazar. Usaha ini mendapat dukungan dari perangkat kabupaten. Salah satunya sumbangan dengan nominal Rp. 1.000.000,00 disamping itu juga mendapatkan dukungan lain berupa pelatihan keterampilan.[3]

Gambar :
 

e.    Pekerja di bidang jasa
Bidang jasa yang menjadi mata pencaharian warga Glonggong diantaranya terdapat PNS (Pegawai Negeri Sipil), tukang kayu/batu, tukang jahit, pedagang, dan buruh lepas.

3.      Perekonomian
Tanah desa Glonggong kaya akan lahan pertanian, tidak heran jika sebagian besar penduduk desa ini berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Jenis-jenis tanaman yang di tanam di desa ini antara lain adalah segala padi, pisang, rambutan, dan lain-lain. Total luas lahan pertaniannya adalah 187 ha, dan luas ladang/ tegalan seluas 44,86 ha.
Dari pekerjaan bertani itulah masyarakat desa Glonggong mencukupi kebutuhan ekonomi mereka. Rata-rata perekonomian warga desa Glonggong berkecukupan.

4.      Keagamaan
Agama yang dianut masyarakat desa Glonggong adalah islam dan kristen. Mayoritas masyarakat desa menganut agama islam. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Sumanto selaku Sekertaris Desa mengatakan bahwa dari 2320an penduduk desa terdapat satu orang saja yang beragama Kristen.[4] Meski demikian, masyarakat hidup dengan damai dan saling menghargai perbedaan yang ada.
Dalam aktivitas agama tersebut terutama Islam, banyak sekali kegiatan-kegiatan yang sudah terlaksana dengan baik. Menurut Bapak Ahmad Zainuri selaku Mudin di desa Glonggong, kegiatan yasinan ini sudah berjalan cukup lama dari rumah ke rumah. Yasinan ini merupakan kegiatan rutinan yang dilakukan pada malam hari yaitu setiap hari kamis malam jum’at, yang dimulai setelah shalat maghrib untuk dusun Mlaten dan untuk dusun Plumpung dimulai ba’da Isya’ yang dipimpin langsung oleh salah satu tokoh masyarakat desa Glonggong.[5]
Desa memiliki beberapa tempat ibadah diantaranya terdapat tiga bangunan masjid yang berada di tiap dusun dan tujuh mushola. Dua mushola berada di dusun Plumpung dan lima mushola di dusun glonggong.

5.      Kebudayaan
a.    Nyadran (Bersih Desa)
Bersih desa adalah sebuah ritual dalam masyarakat kita. Bersih desa merupakan warisan dari niulai-nilai luhur lama budaya yang menunjukkan bahwa manusia jadi satu dengan alam. Ritual ini juga dimaksud sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap alam yang menghidupi mereka.[6]
Nyadran di desa Glonggong berlangsung satu kali dalam setahun. Setiap dusun mengadakan budaya ini dalam pelaksanaannya di dusun Plumpung dan Glonggong dimeriahkan dengan kesenian Karawitan sedangkan di dusun Mlaten dimeriahkan dengan kesenian Wayang Golek.[7]
Perayaan Nyadran di desa Glonggong biasanya diawali pada saat panen pertama atau pada waktu memetik padi untuk yang pertama kali.

b.   Kenduri
Kenduri di desa Glonggong dilaksanakan pada sekitar bulan sebelas ketika menjelang musim hujan. Kenduri dilakukan di tengah sawah. Para warga berbondong-bondong pergi ke tengah sawah untuk memeriahkan acara kenduri. Dengan menyiapkan berbagai makanan seperti, nasi tumpeng, ketan, dll. Meski acara ini untuk para warga, namun mayoritas dimeriahkan oleh para ibu.[8]


[1] Hasil Wawancara dengan Pak Sumanto (Sekretaris desa Glonggong) 28 Januari 2016
[2] Hasil wawancara dengan Pak Sumanto (sekretaris Desa Glonggong) 28 Januari 2016                                   
[3] Hasil wawancara ibu Arum (Ibu Sekretaris Desa) tanggal: 28 Januari 2016
[4] ibid
[5]Hasil wawancara dengan Bapak Ahmad Zainuri (Mudin) pada tanggal: 5 Februari 2016
[6]Tanpa Nama. Biografi Desa Glonggong, hlm:31 . Tanpa tahun
[7]Hasil wawancara dengan Bapak Sumanto (Sekretaris Desa) pada tanggal: 3 Februari 2016
[8]Hasil wawancara dengan Bapak Sumanto (Sekretaris Desa) dan Ibu Arum pada tanggal: 3    Februari 2016





[1] Hasil wawancara bapak Sumanto (Sekertaris Desa) tanggal: 03 Februari 2016
[2] Tanpa Nama. Biografi Desa Glonggong, hlm: 5. Tanpa tahun
[3] Ibid, hlm:5-6
[4] Ibid, hlm:4
[5] Hasil wawancara bapak Sumanto (Sekertaris Desa) tanggal: 03 Februari 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar