PROFIL
DESA GLONGGONG
A.
Letak Geografis Desa Glonggong
Desa
Glonggong adalah salah satu desa yang terletak di wilayah kecamatan Balerejo
kabupaten Madiun provinsi Jawa Timur. Desa ini terletak tidak jauh dari
kecamatan Balerejo, yakni berjarak 3 km dengan waktu tempuh ke kecamatan selama
10 menit. Sedangkan jarak ke pusat fasilitas umum seperti pasar, kesehatan dan
pemerintahan sejauh 2 km, dan ketersediaan angkutan umum selama 24
jam/hari. Lama jarak tempuh ke ibu
kota kabupaten Madiun dengan kendaraan
bermotor kurang lebih 15 menit dan lama jarak tempuh dengan berjalan kaki atau
kendaraan non-motor sekitar ±1 jam.
Desa
Glonggong dari segi batas wilayahnya di sebelah utara berbatasan dengan desa
Sogo, di sebelah selatan berbatasan dengan desa Garon, di sebelah timur
berbatasan dengan desa Balerejo, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan
kabupaten Ngawi. Selain itu desa Glonggong merupakan daerah dataran rendah.
Sepanjang
perjalanan menuju Desa Glonggong terdapat hamparan ladang pertanian padi yang
terbentang luas. Desa ini memiliki iklim sebagaimana desa-desa lain yang ada di
Indonesia, yakni kemarau dan penghujan, hal tersebut berpengaruh langsung
terhadap pola tanam yang ada di desa Glonggong kec Balerejo. Kondisi jalan yang
ada di Glonggong terdapat jalan tanah, keras, beton, aspal. Jalan tanah
sepanjang 1000 M, sedangkan jalan keras sepanjang 5500 M, jalan beton sepanjang
1500 M, dan jalan aspal sepanjang 2000 M. Secara keseluruhan kondisi desa Glonggong
sudah cukup maju baik dari segi bangunan rumah warga, sekolah, tempat ibadah,
dan lain-lain.
Gambar (Peta desa Glonggong) :
Sebagian
aset besar wilayah Desa Glonggong merupakan lahan pertanian yang luasnya
sekitar 187 ha. Sehingga mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh
tani. Sebanyak 825 orang penduduk desa Glonggong merupakan pemilik sawah, dan
31 orang penduduk desa Glonggong menjadi penyewa/penggarap sawah, sedangkan 115
orang penduduk desa Glonggong bekerja sebagai buruh tani. Wilayah desa Glonggong
terdiri dari tiga dusun yaitu: Dusun Glonggong, Mlaten, dan Plumpung.
Kondisi
sarana dan prasarana umum desa Glonggong secara garis besar berdasarkan profil
desa dari balai desa terdiri dari:
1.
Balai
Desa : 1 bh
2.
SD :
1 bh
3.
PAUD : 2 bh
4.
TK : 1 bh
5.
Polindes : 1 bh
6.
Jalan
Desa : 3 km
7.
Irigasi : 5 km
8.
Masjid : 3 bh
9.
Musholla : 7 bh
B.
Sejarah
Desa
Glonggong terbentuk dari tahun 1931. Desa Glonggong merupakan desa yang
terbentuk dari gabungan tiga dusun yakni dusun Glonggong, Mlaten dan Plumpung.
Desa ini dinamakan Glonggong karena wilayah terbesar berada di dusun Glonggong.
[1]
Sebagaimana
dijelaskan di atasm bahwasannya desa Glonggong merupakan gabungan dari dusun
Glonggong, Mlaten, dan Plumpung. Setiap dusun di desa ini memiliki asal mula
nama dusun. Seperti pada dusun Glonggong, nama Glonggong diambil dari cerita
rakyat yang berkembang di masyarakat. Dusun Glonggong memiliki Glugu besar
dalam jumlah yang banyak. Glugu besar tersebut hampir menyerupai pohon tebu tetapi ukurannya lebih besar dan
tidak memiliki rasa manis seperti tebu.[2] Lama-kelamaan disebutlah
daerah ini dengan sebutan Glonggong.
Lain
halnya dengan dusun Glonggong, nama dusun Mlaten didapat dari bunga Melati yang
berada di dusun itu. Di dalam bunga Melati tersebut memiliki sesuatu di
dalamnya yang hingga saat ini masyarakat tidak mengetahui isi di dalam Melati
terebut, maka dusun ini dinamakan Mlaten.[3]
Tidak
jauh beda dengan dusun Glonggong, nama dusun Plumpung juga diambil dari tanaman
Glugu. Cerita rakyat yang berkembang menceritakan bahwa dahulu kala di dusun
Plumpung terdapat kayu Glugu kecil di rawa. Saat itu, di duun Plumpung memang
terdapat rawa-rawa yang ditumbuhi Glugu. Glugu di rawa dalam bahasa jawa
disebut dengan Plumpung. Oleh karena itu, dusun ini disebut dengan dusun
Plumpung.[4]
Dalam
perkembangannya, desa Glonggong telah beberapa kali berganti kepala desa.
Seiring berjalannya waktu, desa ini semakin maju baik dari segi infrastruktur,
pendidikan, maupun kesejahteraan masyarakat. Tentu kemajuan yang berkembang
tidak lepas dari peran kepala desa dengan program-program kerjanya dan dibantu
oleh perangkat desa serta masyarakat
desa. Kepala desa Glonggong diantaranya adalah Bapak Hadi Wiyono, Wiryorejo,
Sastro Sunaryo, Suyadi, Murdoko, dan Suwito.
Bapak
Hadi Wiyono merupakan kepala desa pertama di desa Glonggong dari tahun
1931-1948. Bapak Wiryorejo merupakan kepala desa kedua dari tahun 1948-1951.
Pada tahun 1951 digantikan oleh Bapak Sastro Sunaryo hingga tahun 1991.
Kemudian pada tahun 1991 digantikan oleh Bapak Suyadi hingga tahun 1998.
Dilanjutkan dengan kepemimpinan Bapak Murdoko hingga tahun 2008. Kepemimpinan
Bapak Murdoko berlangung selama sepuluh tahun. Di tahun 2008 digantikan oleh
Bapak Suwito hingga tahun 2014. Akhir kepemimpinan Bapak Suwito, beliau
terpilih lagi sebagai kepala desa hingga 6 tahun kedepan. [5]
A.
Aset Desa Glonggong
Menurut Bapak Sumanto (Sekertaris desa Glonggong), aset yang
dimiliki desa Glonggong diantaranya:[1]
a.
Aset
Manusia: petani, pemilik sawah, penggarap/penyewa, buruh tani, pemilik ternak
sapi, pemilik ternak kambing, pemilik ternak ayam, pemilik kolam ikan, pemilik
usaha industri rumah tangga, PNS, warung, kios, pedagang kecil, becak, tukang
kayu/batu, tukang jahit, dan buruh lepas.
b.
Aset
Alam: pemukiman, sawah, dan ladang/tegalan.
c.
Aset
Ekonomi: pertanian, peternakan, penjahit, usaha industri rumah tangga.
d.
Aset
Sosial: kelompok tani, kelompok tahlil, kelompok PKK, kelompok pengajian, kelompok
senam, arisan RT, posyandu, posbindu, TPQ, koperasi wanita, arisan sinoman
bapak dan arisan sinoman ibu.
e.
Aset
Fisik: masjid, musholla, rumah, makam, sekolah (PAUD/SD/TPQ dll), kantor desa.
B.
Demografi Desa
Glonggong
1.
Jumlah Penduduk
Desa
Glonggong terbagi menjadi tiga dusun yaitu Dusun Glonggong, Mlaten, dan
Plumpung. Di desa ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 2326 jiwa. Jumlah
penduduk laki-laki kurang lebih sebanyak 1026 jiwa, dan penduduk perempuan kurang
lebih sebanyak 1053 jiwa. Jumlah kepala keluarga di desa ini sebnayak 747 KK.
Dari keseluruhan jumlah penduduk tersebut, mayoritas terdiri dari usia 15-49
tahun dengan total 1022 jiwa, dan penduduk usia 50 tahun ke atas sebanyak 664
jiwa. Sedangkan penduduk usia 0-14 tahun sebanyak 393 jiwa.
Di
Dusun Glonggong, menurut data yang didapat dari balai desa jumlah penduduk dusun Glonggong adalah kurang
lebih 357 Kepala Keluarga dan jumlah jiwa sebanyak 1139 jiwa.
Berbeda
dengan Dusun Glonggong, jumlah penduduk dusun Mlaten berjumlah kurang lebih 121
Kepala Keluarga dan jumlah jiwa sebanyak 353 jiwa. Sedangkan di Dusun Plumpung,
jumlah penduduknya berjumlah kurang lebih 269 Kepala Keluarga dan jumlah jiwa
sebanyak 834 jiwa.
2.
Pekerjaan
Masyarakat Desa Glonggong mayoritas bermata pencaharian sebagai
petani dan buruh tani. Selain kedua pekerjaan tersebut, sebagian kecil
masyarakat juga mempunyai pekerjaan lain, di antaranya adalah pemilik hewan
ternak (sapi, kambing, ayam), pemilik kolam ikan, pemilik usaha rumahan, dan
pekerja di bidang jasa.
a.
Petani
& buruh tani
Mayoritas
pekerjaan masyarakat di Desa Glonggong adalah petani dan buruh tani. Masyarakat
Glonggong sebagian memiliki sawah sendiri, akan tetapi sebagian lainnya bekerja
sebagai buruh tani.[2] .
Gambar:
b.
Peternak
hewan
Penduduk desa
Glonggong menjadi peternak sebagai pekerjaan sampingan. Data tersebut terlihat
dari sedikitnya orang yang bermata pencaharian peternak dari pada petani.
Gambar:
c.
Pemilik
kolam ikan
Tak hanya
sebagai petani dan buruh tani warga Glonggong juga mempunyai lahan yang
dijadikan kolam ikan. Kolam ikan tersebut hanya dijadikan sebagai konsumsi
pribadi.
d.
Pemilik
usaha rumahan
Usaha rumahan
yang banyak dilakukan oleh warga yakni menjadi pedagang. Pedagang adalah salah
satu alternatif pekerjaan sampingan yang dilakukan oleh warga desa Glonggong.
Beberapa warga memilih membuka warung, kios, atau berkeliling untuk menjajakan
dagangannya. Mulai dari dagangan kebutuhan sehari-hari, makanan, dan minuman.
Selain itu, warga
desa Glonggong juga mempunyai keahlian memproduksi abon dan kerupuk. Pembuatan
abon dan krupuk biasanya diproduksi jika ada orderan dan ketika ada bazar.
Usaha ini mendapat dukungan dari perangkat kabupaten. Salah satunya sumbangan
dengan nominal Rp. 1.000.000,00 disamping itu juga mendapatkan dukungan lain
berupa pelatihan keterampilan.[3]
Gambar :
e.
Pekerja
di bidang jasa
Bidang jasa
yang menjadi mata pencaharian warga Glonggong diantaranya terdapat PNS (Pegawai
Negeri Sipil), tukang kayu/batu, tukang jahit, pedagang, dan buruh lepas.
3.
Perekonomian
Tanah desa Glonggong kaya akan lahan pertanian, tidak heran jika
sebagian besar penduduk desa ini berprofesi sebagai petani dan buruh tani.
Jenis-jenis tanaman yang di tanam di desa ini antara lain adalah segala padi,
pisang, rambutan, dan lain-lain. Total luas lahan pertaniannya adalah 187 ha, dan
luas ladang/ tegalan seluas 44,86 ha.
Dari pekerjaan bertani itulah masyarakat desa Glonggong mencukupi
kebutuhan ekonomi mereka. Rata-rata perekonomian warga desa Glonggong berkecukupan.
4.
Keagamaan
Agama yang dianut masyarakat desa Glonggong adalah islam dan
kristen. Mayoritas masyarakat desa menganut agama islam. Berdasarkan hasil
wawancara dengan Bapak Sumanto selaku Sekertaris Desa mengatakan bahwa dari
2320an penduduk desa terdapat satu orang saja yang beragama Kristen.[4] Meski demikian, masyarakat
hidup dengan damai dan saling menghargai perbedaan yang ada.
Dalam aktivitas agama tersebut terutama Islam, banyak sekali kegiatan-kegiatan
yang sudah terlaksana dengan baik. Menurut Bapak Ahmad Zainuri selaku Mudin di
desa Glonggong, kegiatan yasinan ini sudah berjalan cukup lama dari rumah ke
rumah. Yasinan ini merupakan kegiatan rutinan yang dilakukan pada malam hari
yaitu setiap hari kamis malam jum’at, yang dimulai setelah shalat maghrib untuk
dusun Mlaten dan untuk dusun Plumpung dimulai ba’da Isya’ yang dipimpin langsung
oleh salah satu tokoh masyarakat desa Glonggong.[5]
Desa memiliki beberapa tempat ibadah diantaranya terdapat tiga
bangunan masjid yang berada di tiap dusun dan tujuh mushola. Dua mushola berada di dusun Plumpung dan lima mushola
di dusun glonggong.
5.
Kebudayaan
a.
Nyadran (Bersih Desa)
Bersih desa adalah sebuah ritual dalam masyarakat kita. Bersih desa
merupakan warisan dari niulai-nilai luhur lama budaya yang menunjukkan bahwa
manusia jadi satu dengan alam. Ritual ini juga dimaksud sebagai bentuk
penghargaan masyarakat terhadap alam yang menghidupi mereka.[6]
Nyadran di desa Glonggong berlangsung satu kali dalam setahun.
Setiap dusun mengadakan budaya ini dalam pelaksanaannya di dusun Plumpung dan
Glonggong dimeriahkan dengan kesenian Karawitan sedangkan di dusun Mlaten
dimeriahkan dengan kesenian Wayang Golek.[7]
Perayaan Nyadran di desa Glonggong biasanya diawali pada saat panen
pertama atau pada waktu memetik padi untuk yang pertama kali.
b.
Kenduri
Kenduri di desa Glonggong dilaksanakan pada sekitar bulan sebelas
ketika menjelang musim hujan. Kenduri dilakukan di tengah sawah. Para warga
berbondong-bondong pergi ke tengah sawah untuk memeriahkan acara kenduri.
Dengan menyiapkan berbagai makanan seperti, nasi tumpeng, ketan, dll. Meski
acara ini untuk para warga, namun mayoritas dimeriahkan oleh para ibu.[8]
[5]Hasil wawancara dengan Bapak Ahmad Zainuri (Mudin) pada tanggal: 5 Februari
2016
[6]Tanpa Nama. Biografi Desa Glonggong, hlm:31 . Tanpa tahun
[7]Hasil wawancara dengan Bapak Sumanto (Sekretaris Desa) pada tanggal: 3
Februari 2016
[8]Hasil wawancara dengan Bapak Sumanto (Sekretaris Desa) dan Ibu Arum pada
tanggal: 3 Februari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar